Cara-Cara Untuk Mengobati Kanker Serviks Yang Wajib Anda Ketahui

Maret 19, 2019 Add Comment

Pengobatan terhadap kanker serviks meliputi bedah, kemoterapi, radioterapi, atau kombinasi ketiganya. Metode yang dipilih tergantung kepada beberapa faktor, yaitu arena kanker, jenis kanker, serta kondisi kesehatan pasien. Sejumlah pengobatan yang dapat dilakukan pada kanker serviks meliputi:

Bedah 

Beberapa metode bedah dapat menangani kanker serviks, terutama pada arena awal. Di antaranya adalah:

Bedah laser. Bedah laser bertujuan menghancurkan sel kanker dengan menembakkan sinar laser melalui vagina.

Cryosurgery. Cyrosurgery menggunakan nitrogen cair untuk membekukan dan menghancurkan sel kanker.

Konisasi atau biopsi kerucut. Prosedur ini bertujuan mengangkat sel kanker menggunakan pisau bedah, laser, atau kawat tipis yang dialiri listrik (LEEP). Metode konisasi yang dipilih tergantung pada lokasi dan jenis kanker.

Histerektomi. Histerektomi adalah bedah untuk mengangkat rahim (uterus) dan leher rahim (serviks). Pengangkatan sel kanker dapat dilakukan melalui sayatan di perut (stomach hysterectomy), atau dengan laparoskopi (laparoscopic hysterectomy). Selain dua metode tersebut, kanker juga bisa diangkat melalui vagina (vaginal hysterectomy).

Pada kanker yang sudah menyebar luas, dokter juga akan mengangkat territory vagina, serta ligamen dan jaringan di sekitarnya. Selain itu, ovarium (indung telur), saluran indung telur, dan kelenjar getah bening di sekitarnya juga akan diangkat. Prosedur ini disebut histerektomi radikal.

Perlu diketahui bahwa histerektomi akan membuat pasien tidak lagi bisa memiliki anak, dan mengakibatkan menopause pada wanita yang seharusnya belum mengalaminya. Selain itu, histerektomi juga dapat menimbulkan komplikasi jangka pendek seperti infeksi, perdarahan, terbentuknya gumpalan darah, dan cedera pada kandung kemih, ureter (saluran pee dari ginjal ke kandung kemih), atau rektum.

Sedangkan pada kasus yang jarang, komplikasi jangka panjang yang dapat terjadi adalah limfedema (pembengkakan pada lengan dan tungkai akibat penyumbatan saluran getah bening) dan inkontinensia (pee keluar tidak terkontrol). Kemungkinan komplikasi lainnya dapat berupa timbulnya sumbatan pada usus akibat terbentuknya jaringan parut, dan nyeri saat berhubungan seks akibat vagina yang terlalu pendek dan kering.

Trakelektomi radikal. Bedah trakelektomi bertujuan mengangkat serviks, vagina bagian atas, serta kelenjar getah bening di territory pinggul, melalui laparoskopi. Pada trakelektomi, rahim tidak ikut diangkat, dan disambungkan ke bagian bawah vagina. Oleh karena itu, pasien masih memungkinkan memiliki anak.

Reciprocal salpingo oophorectomy. Bedah ini digunakan untuk mengangkat kedua ovarium dan tuba falopi.

Pelvic exenteration. Pelvic exenterationadalah operasi besar yang hanya disarankan jika kanker serviks kambuh kembali setelah sempat sembuh. Operasi ini dilakukan jika kanker kembali ke daerah panggul, tapi belum menyebar ke wilayah lain.

Ada dua tahapan pelvic exenteration yang harus dilewati. Di tahap pertama, kanker dan vagina akan diangkat. Kandung kemih dan rektum juga mungkin ikut diangkat. Lalu pada tahap kedua, 1-2 lubang (stoma) akan dibuat di perut sebagai jalan untuk mengeluarkan pee dan feses. Kotoran yang dibuang dimasukkan ke dalam kantung penyimpanan yang disebut kantung kolostomi.

Setelah prosedur bedah selesai, dokter akan menggunakan kulit dan jaringan dari bagian tubuh lain untuk membuat vagina baru.

Radioterapi 

Radioterapi adalah metode pengobatan kanker yang menggunakan sinar radiasi tinggi untuk membunuh sel kanker. Untuk kanker serviks arena awal, radioterapi bisa dijalankan sebagai pengobatan tunggal atau dikombinasikan dengan bedah. Sedangkan pada kanker serviks arena lanjut, radioterapi dapat dikombinasikan bersama kemoterapi untuk mengendalikan nyeri dan perdarahan.

Radioterapi bisa diberikan dengan dua cara, yaitu: 

1. Radioterapi eksternal. Radioterapi eksternal atau disebut juga outer bar radiation treatment (EBRT), dilakukan dengan menggunakan mesin radioterapi. Mesin ini akan menembakkan gelombang energi tinggi ke region panggul pasien untuk menghancurkan sel kanker. Pada umumnya, pasien menjalani EBRT 5 hari dalam seminggu, selama 6-7 pekan. EBRT akan dikombinasikan dengan pemberian obat kemoterapi dalam dosis rendah, seperti cisplatin. Walaupun demikian, EBRT juga dapat diberikan sebagai pengobatan tunggal, terutama pada pasien yang tidak bisa menjalani kemoterapi.

2. Radioterapi inside. Radioterapi interior atau brakiterapi dilakukan dengan memasukkan implan radioaktif melalui vagina, dan ditempatkan langsung di sel kanker atau di dekatnya. Brakiterapi sering dikombinasikan dengan EBRT sebagai terapi utama kanker serviks. Brakiterapi dapat diberikan dengan dosis rendah selama beberapa hari. Bisa juga diberikan dalam dosis tinggi selama seminggu. Pada brakiterapi dosis tinggi, implan radioaktif akan dimasukkan dan didiamkan selama beberapa menit, lalu dikeluarkan.

Dalam jangka pendek, EBRT dapat menyebabkan efek samping seperti diare, mual muntah, kram perut, tubuh lemas, iritasi kulit, perdarahan pada vagina atau rektum, dan inkontinensia pee. Efek samping lainnya meliputi nyeri pada vagina (terutama saat berkemih), perubahan siklus menstruasi, menopause dini, cystitis, serta kekurangan sel darah seperti sel darah putih (leukopenia). Sedangkan pada brakiterapi, efek samping jangka pendek yang umumnya muncul adalah iritasi pada vagina.

Pada beberapa kasus, efek samping di atas dapat bersifat permanen. Tetapi, kebanyakan efek samping akan hilang dalam 2 bulan setelah menyelesaikan pengobatan.

Dalam jangka panjang, EBRT dan brakiterapi dalam menimbulkan efek samping seperti vaginal stenosis (kondisi vagina menyempit atau memendek). Kondisi ini akan menyebabkan nyeri pada vagina saat berhubungan seks. Selain itu, terapi radiasi pada panggul dapat melemahkan tulang. Bahkan, patah tulang panggul dapat terjadi 2-4 tahun setelah menjalani radioterapi. Efek samping lainnya adalah limfedema atau pembengkakan pada kaki akibat penyumbatan saluran getah bening.

Untuk mencegah efek samping seperti kemandulan, dokter akan menyarankan pasien menjalani pengambilan sel telur, sehingga pasien dapat menjalani bayi tabung di kemudian hari. Sedangkan untuk mencegah menopause dini, ovarium bisa dipindahkan ke territory panggul yang tidak terkena radiasi. Prosedur ini dikenal dengan istilah ovarian transposition.

Kemoterapi 

Kemoterapi adalah metode pengobatan dengan memberikan pasien obat antikanker dalam bentuk obat minum atau suntik. Obat ini dapat memasuki aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Oleh karena itu, kemoterapi sangat berguna dalam membunuh sel kanker berbagai territory tubuh.

Umumnya, kemoterapi dikombinasikan dengan radioterapi secara bersamaan untuk meningkatkan efektivitas radioterapi. Metode ini disebut juga dengan kemoradiasi. Contoh obat yang digunakan dalam kemoradiasi adalah cisplatin (diberikan 4 jam sebelum pasien menjalani radioterapi) atau cisplatin dengan 5-fluorouracil (diberikan tiap 4 minggu selama pasien menjalani radioterapi).

Kemoterapi juga digunakan untuk menangani kanker yang telah menyebar ke organ dan jaringan lain. Beberapa obat kemoterapi yang digunakan dalam kondisi ini, antara lain adalah carboplatin, cisplatin, gemcitabine, atau paclitaxel.

Selain dikombinasikan dengan radioterapi, kemoterapi juga dapat diberikan sebagai pengobatan tunggal pada kanker serviks arena lanjut. Tujuannya adalah untuk memperlambat penyebaran sel kanker dan meredakan gejala yang dialami. Metode ini disebut juga kemoterapi paliatif.

Meskipun ampuh dalam membunuh sel kanker, kemoterapi juga dapat merusak sel tubuh yang sehat. Oleh karena itu, sejumlah efek samping muncul akibat penggunaan obat kemoterapi. Efek samping yang muncul tergantung kepada jenis dan dosis obat yang digunakan, serta lama pengobatan yang dijalani. Efek samping yang withering sering timbul pada pasien yang menjalani kemoterapi adalah rambut rontok. Walaupun demikian, tidak semua obat kemoterapi menyebabkan kerontokan rambut, contohnya cisplatin.

Obat kemoterapi dapat merusak sel penghasil darah di tulang sumsum. Kondisi ini akan menyebabkan tubuh kekurangan sel darah, sehingga pasien rentan mengalami infeksi, memar dan perdarahan, serta sesak napas.

Beberapa efek samping lain yang dapat muncul akibat kemoterapi adalah: 

  • Diare 

  • Kehilangan nafsu makan 

  • Mual muntah 

  • Sariawan 

  • Lemas 


Perlu diketahui bahwa obat kemoterapi dapat merusak ginjal. Oleh karena itu, penting bagi pasien yang menjalani kemoterapi untuk rutin melakukan tes darah, agar kondisi ginjal selalu terpantau.

Terapi Target 

Terapi target adalah pemberian obat yang menghambat pertumbuhan tumor. Jenis obat yang digunakan dalam terapi target memiliki fungsi yang berbeda dengan obat kemoterapi biasa. Salah satu golongan obat terapi target adalah penghambat angiogenesis (misalnya, bevacizumab). Obat ini bekerja dengan menghambat angiogenesis, yaitu expositions di mana tumor membentuk pembuluh darah baru, guna mendukung perkembangannya.

Efek samping yang mungkin muncul akibat terapi target dapat berupa tekanan darah tinggi, lemas, dan kehilangan nafsu makan. Pada kasus yang jarang, efek samping yang lebih serius meliputi perdarahan, terbentuknya gumpalan darah, dan terbentuknya fistula (saluran unusual antara vagina dan bagian usus besar).

Setelah kanker berhasil diangkat, sangat penting bagi pasien untuk menjalani pemeriksaan lanjutan, terutama pada vagina dan leher rahim (jika rahim belum diangkat). Pemeriksaan bertujuan untuk melihat kemungkinan kanker tumbuh kembali. Bila pemeriksaan menunjukkan hasil yang mencurigakan, dokter dapat menjalankan biopsi.

Pasien disarankan menjalani pemeriksaan lanjutan tiap 3-6 bulan sekali, selama 2 tahun pertama setelah pengobatan selesai. Lalu dilanjutkan tiap 6-12 bulan untuk 3 tahun berikutnya.

Bagi pasien yang sedang hamil, pengobatan kanker serviks tergantung arena dan umur kehamilan.

Langkah Penting untuk Mencegah Kanker Serviks

Maret 17, 2019 Add Comment


Kanker serviks atau biasa juga disebut dengan kanker leher rahim adalah jaringan sel kanker yang tumbuh dan berkembang secara tidak terkontrol di daerah leher rahim. Sebagian kanker rahim disebabkan karena infeksi infection Human Papiloma Virus (HPV) yang bisa ditularkan melalui hubungan seksual, entah dalam cara butt-centric, oral, ataupun vaginal.

Wanita yang di dalam tubuhnya terdapat infection HPV mungkin bisa mengalami kanker serviks dan mungkin juga tidak mengembangkan kanker serviks. Namun, wanita yang mempunyai infection HPV di dalam tubuhnya dan ditambah dengan gaya hidup yang buruk mempunyai kemungkinan lebih besar untuk menderita kanker serviks.

Kebanyakan kasus kanker serviks ditemukan pada arena lanjut. Hal ini terjadi karena saat masih dalam arena awal, kanker serviks umumnya tidak menimbulkan gejala apapun. Padahal, semakin dini kanker serviks terdiagnosis, maka peluang untuk sembuhnya semakin besar.

1. Rutin melakukan pemeriksaan pap smear 

Pap Smear merupakan salah satu cara terbaik sebagai lini pertahanan pertama untuk mencegah kanker serviks. Metode screening satu ini berfungsi untuk mendeteksi sel-sel dalam leher rahim yang berpotensi menjadi kanker nantinya.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), Anda disarankan untuk melakukan pemeriksaan pap smear pertama kali pada usia 21 tahun, terlepas apakah Anda sudah pernah berhubungan seksual atau belum. Tapi, jika usia Anda sudah lebih dari 21 tahun, Anda belum terlambat untuk segera melakukan pemeriksaan ini.

Anda disarankan untuk melakukan pemeriksaan pap smear secara rutin setiap tiga tahun sekali (tanpa disertai tes HPV), bagi Anda yang berusia 21-30 tahun. Sedangkan bagi Anda yang berusia lebih dari 30 tahun, Anda disarankan untuk melakukan pap smear (disertai dengan tes HPV) setiap lima tahun sekali. Lakukan pemeriksaan pap smear segera rutin untuk mengurangi risiko kanker serviks. Jangan lupa, konsultasikan terlebih dahulu ke dokter sebelum Anda memutuskan melakukan pemeriksaan ini.

2. Mendapatkan vaksinasi HPV 

Cara lain yang tidak kalah penting untuk mencegah kanker serviks adalah melakukan vaksinasi HPV. Jika Anda wanita dan laki-laki berusia antara 9 sampai 26 tahun, Anda disarankan untuk mendapatkan vaksin ini.

Pada dasarnya vaksin HPV withering perfect diberikan pada mereka yang memang belum aktif secara seksual. Tapi, semua orang dewasa yang aktif secara seksual dan belum pernah mendapatkan vaksin ini sebelumnya, sebaiknya segera melakukan vaksinasi.

Wanita yang sudah aktif secara seksual harus melakukan pemeriksaan pap smear terlebih dahulu sebelum mendapatkan vaksin HPV. Jika hasil pap smear ordinary, Anda boleh langsung mendapatkan vaksin HPV. Namun, jika pemeriksaan pap smear tidak typical, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk melakukan finding lebih lanjut.

Meski vaksin HPV bisa mengurangi risiko kanker serviks, tapi vaksin ini tidak menjamin Anda terlindung sepenuhnya dari penyakit kanker serviks. Anda tetap disarankan menjalani pola hidup sehat dan pap smear secara rutin meski sudah mendapatkan vaksinasi HPV.

3. Hindari merokok 

Anda bisa mengurangi kemungkinan terkena kanker serviks dengan tidak merokok. Tidak merokok adalah cara penting lainnya untuk mengurangi risiko kanker serviks. Pasalnya, racun rokok bersifat oksidatif sehingga bisa memicu sel kanker muncul dan bertambah ganas.

4. Lakukan seks yang aman 

Lebih dari 90 persen kanker serviks disebabkan karena terinfeksi infection HPV. Penyebaran infection ini terjadi melalui hubungan seksual yang tidak aman, maka gunakan kondom ketika berhubungan seksual untuk mengurangi risiko tertular HPV.

Selain itu, risiko tertular HPV juga meningkat apabila sering bergonta-ganti pasangan seksual. Wanita yang hanya memiliki satu pasangan quip bisa terinfeksi infection ini jika pasangannya memiliki banyak pasangan seksual lain.

5. Menjaga kebersihan vagina 

Selain melakukan pap smear untuk mencegah kanker serviks, Anda juga harus menjaga kebersihan vagina terutama saat menstruasi dan keputihan. Menggunakan cairan antiseptik kewanitaan yang mengandung povidone iodine mungkin bisa Anda lakukan untuk menjaga kebersihan vagina Anda, terutama ketika masa "red day" atau menstruasi.

Inilah Gejala Awal Kanker Serviks Yang Wajib Anda Tahu

Maret 15, 2019 Add Comment

Mengenal kanker serviks 

Kanker serviks terjadi saat sel strange tumbuh tak terkontrol dalam serviks atau leher rahim Anda. Hal ini biasanya disebabkan oleh infeksi human papillomavirus (HPV) yang menyerang leher rahim. Saat wanita terinfeksi infection ini, mungkin wanita tidak langsung menderita kanker serviks. Sistem kekebalan tubuh yang dimiliki setiap manusia berusaha untuk melawan infection ini.

Namun, infection HPV dapat bertahan selama bertahun-tahun dalam tubuh wanita, berkembang, dan akhirnya menyebabkan sel-sel pada dinding serviks berubah menjadi sel kanker. Maka itu, Anda quip kemudian menderita kanker serviks.

Penyebab kanker serviks adalah infeksi infection HPV. Terdapat lebih dari 100 jenis infection HPV dan 13 di antaranya dapat menyebabkan kanker serviks. Anda bisa terinfeksi infection ini dengan melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang memiliki infection HPV.

Infection HPV penyebab kanker serviks akan menginfeksi sel-sel sehat yang ada di dinding rahim. Jadi, sel sehat mengalami perubahan genetik menjadi sel yang strange. Sel-sel yang sehat pada akhirnya mati dan digantikan dengan sel strange yang tumbuh tak terkendali. Sel unusual yang tumbuh kemudian membentuk suatu massa besar yang disebut dengan tumor.

Wanita yang di dalam tubuhnya terdapat infection HPV mungkin bisa mengalami gejala kanker serviks dan mungkin juga tidak mengembangkan kanker serviks. Infeksi infection HPV dapat hilang dengan sendirinya.

Namun, faktor-faktor lain juga turut berpengaruh pada perkembangan kanker serviks, seperti gaya hidup. Wanita yang mempunyai infection HPV ditambah dengan gaya hidupnya yang buruk mempunyai kemungkinan lebih besar untuk menderita kanker serviks gejala awal.

Berbagai gejala kanker serviks yang harus Anda waspadai 

1. Keluar darah dari vagina 

Gejala kanker serviks ini sangat umum. Bila Anda tiba-tiba mengeluarkan darah atau bercak darah dari vagina, padahal saat itu Anda sedang tidak dalam masa haid, maka bisa jadi hal tersebut merupakan gejala kanker serviks.

Biasanya, perdarahan ini terjadi setelah Anda berhubungan seksual. Atau bisa juga darah yang keluar saat haid, jumlahnya jauh lebih banyak dari biasanya.

Kedua hal tersebut bisa menjadi gejala kanker serviks arena awal. Ya, walaupun memang keluarnya darah dari vagina bisa disebabkan oleh berbagai hal, maka ada baiknya jika Anda segera periksakan kondisi Anda ke dokter.

2. Sakit pada bagian panggul 

Apakah Anda merasakan sakit atau nyeri di territory panggul? Jika iya, jangan anggap remeh rasa sakit tersebut. Nyeri di territory panggul ketika memasuki masa haid mungkin hal biasa. Akan tetapi, kalau Anda merasakannya ketika melakukan hubungan seks dengan pasangan, maka nyeri panggul yang Anda rasakan tidak typical dan bisa jadi gejala kanker serviks arena awal.

Bila hal ini terjadi, sebaiknya segera periksakan diri Anda. Anda juga bisa mengurangi rasa sakit dengan mengonsumsi obat penghilang rasa nyeri seperti ibuprofen.

3. Keputihan yang tidak ordinary

Faktanya, keputihan adalah hal yang ordinary dan setiap wanita yang sehat pasti mengalaminya. Namun, ada kalanya keputihan yang dikeluarkan vagina itu tidak ordinary dan menunjukkan suatu gangguan kesehatan.

Misalnya saja, jika cairan keputihan yang dikeluarkan miss V berbau menyengat dan beda dari biasanya, maka hal ini menandakan bahwa Anda mungkin mengalami suatu gangguan kesehatan. Tapi, jangan takut dulu, sebab keputihan yang tidak ordinary bisa disebabkan oleh berbagai hal, belum tentu sebagai tanda kanker serviks gejala awal

4. Mengalami perubahan jadwal BAB 

Bahkan perubahan jadwal BAB bisa adi gejala kanker serviks atau penyakit lainnya. Perhatikan, apakah Anda belakangan ini menjadi sulit BAB. Pasalnya, kondisi ini mungkin saja menandakan kalau Anda mengalami kanker serviks.

Bila massa pada kanker serviks gejala awal sudah tumbuh cukup besar, benjolan kanker dapat menekan usus Anda dan membuat Anda sulit BAB. Tapi, jangan terlampau cemas dulu jika Anda mengalaminya, sebab gangguan kesehatan ini bisa disebabkan oleh kondisi kesehatan lainnya, tak hanya sebagai tanda kanker serviks gejala awal

5. Mengalami kelelahan yang berlebihan 

Kelelahan adalah salah satu gejala kanker serviks yang umum. Kelelahan terjadi akibat, sel-sel kanker yang mulai tumbuh sedikit demi sedikit mengambil energi dan cadangan makanan tubuh Anda. Ini membuat Anda kekurangan makanan dan akhirnya cepat lelah. Bila gejala ini tak kunjung hilang, maka sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.